JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta mengklaim sistem Indonesia Case Base Groups (INA-CBG's) yang dijalankan dalam program Kartu Jakarta Sehat (KJS) merupakan sistem terbaik dalam melayani pasien dalam peket pengobatan.
Kendati fakta di lapangan banyak terjadi keluhan dari pihak dokter dan rumah sakit, mantan Bupati Belitung Timur itu justru menilai sebagai bentuk pembelajaran bagi para dokter.
"Tapi dokter-dokter mengakui sistem INA CBG's ini memaksa rumah sakit mencari tahu, kenapa saya rugi? Kan kalau rugi berarti boros, jadi ini akan menguntungkan pasien," ujarnya seusai melakukan rapat evaluasi KJS di kantor Balai Kota, Jakarta, Senin (3/6/2013).
Kalau tidak, lanjutnya, bisa membuat oknum farmasi nakal untuk menitipkan obat pada pihak rumah sakit atau dokter. "Dia bisa saja tambahkan itu. Kalau sekarang ditambahin, itu ditolak. Ini kelebihan INA-CBG's," terangnya.
Dengan begitu, sistem INA-CBG's dapat menjamin negara, dari malpraktik dari dokter ataupun pihak rumah sakit. "Dengan clinical pathway, semua ada hitungannya," tandasnya.
"Semua dokter mengaku INA-CBG's ini lebih banyak lebihnya. Ini sudah dipakai Australia, Singapura, Inggris. Di Australi saja, menjalankan sistem ini sampai sembilan tahun. Nah kita disini, baru satu bulan, sudah diteriakin (interpelasi)," cetusnya.
Kabar mundurnya 16 rumah sakit, yang pada akhirnya hanya dua yang memutuskan untuk mundur dari KJS, memang membuat mitra kerjanya di DPRD DKI mengajukan hak interpelasi. Bahkan, Sekertaris Dewan DPRD DKI Mangara Pardede menegaskan bahwa hak interpelasi tersebut sampai saat ini masih di proses oleh jajaran wakil rakyat itu.
(put)