
Keadaan darurat memungkinkan tindakan yang lebih tegas untuk melindungi warga sipil.
Pemerintah Sisilia di Italia menyatakan keadaan darurat sehubungan dengan tingginya jumlah pendatang yang tiba dengan menggunakan perahu.
Langkah itu ditujukan agar pihak berwenang bisa mengambil tindakan yang lebih tegas untuk melindungi warga sipil.
Pulau Lampedusa -yang menjadi salah satu tujuan utama pencari suaka untuk memasuki kawasan Eropa- berada di bawah pemerintah Sisilia.
Dalam beberapa waktu belakangan, Lampedusa berjuang untuk menangani peningkatan jumlah pencari suaka asal Afrika Utara.
Hari Kamis 3 Oktober lalu, sebuah Klik kapal yang membawa Klik sekitar 500 pencari suaka tenggelam di lepas pantai Lampedusa dan menewaskan lebih dari 230 orang.
Sekitar sepekan kemudian, Jumat (11/10) sebuah kapal pembawa Klik pencari suaka lainnya karam di perairanKlik antara Malta dan Lampedusa dengan korban jiwa mencapai 33 orang.

Kecelakaan perahu dengan korban jiwa di sekitar Lampedusa kerap terjadi.
Pemerintah Italia sebelumnya memutuskan untuk menggelar patroli udara untuk memantau kapal-kapal yang diduga sedang dalam bahaya.
Dan Menteri Luar Negeri, Emma Bonino, menegaskan bahwa tugas patroli itu adalah untuk menyelamatkan korban bukan "memerintahkan agar tetap berada di tempat mereka".
Dalam perkembangan lain, Penjaga Pantai Italia menyelamatkan sekitar 300 orang yang berdesak-desakan dalam dua perahu yang menuju Lampedusa, Selasa 15 Oktober.
Upaya penyelamatan ditempuh setelah panggilan telepon satelit Senin malam yang meminta bantuan karena kedua perahu disebutkan dalam keadaan bahaya.
Video yang ditayangkan Penjaga Pantai memperlihatkan empat perempuan yang sedang hamil dibantu diselematkan dari salah satu perahu.
Salah satu perahu, seperti dilaporkan kantor berita AP, berisi sekitar 80 pendatang dari Nepal, Bangladesh, dan Nigeria.
Sedangkan perahu lainnya membawah 200 lebih pencari suaka asal Suriah, Eritrea, serta Somalia dan 36 penumpangnya adalah anak-anak.