Pelaksanaan ujian tingkat SLTA disejumlah sekolah di jakarta relatif lancar baik dari segi persiapan, pelaksanaan dan pengawasan.
Liputan6.com, Surabaya - Penyelidikan kasus jual-beli kunci jawaban soal Ujian Nasional (UN) di sebuah sekolah menengah atas (SMA) negeri di Sememi, Benowo, Surabaya, Jawa Timur, kian melebar. Polisi menduga kasus tersebut juga terjadi di SMA lain di Surabaya.
"Kasus ini melibatkan jaringan," tutur Kepala Unit Kejahatan Umum (Kanit Jatanum) Polrestabes Surabaya AKP M.S. Fery, Sabtu (19/4/2014), melalui telepon seluler.
Fery menambahkan, sedikitnya ada 10 SMA yang menjadi sasaran penyebaran kunci jawaban ini. Jaringan ini dikendalikan seseorang yang mendapat sebutan Joki Gosok. Ada lebih dari 5 jaringan yang dipunyai Joki Gosok.
"Joki Gosok ini mengumpulkan satu siswa di setiap sekolah untuk menjadi koordinator sekolah. R adalah salah satunya," katanya.
Joki Gosok bersama anak buahnya yang disebut Bang T lalu mem-briefing para koordinator sekolah tersebut. Mereka dijelaskan tentang cara kerja menyebarkan dan memperjualbelikan kunci jawaban tersebut.
"Mereka diajari bagaimana membentuk koordinator sekolah yang bertugas menyebar dan menjual kunci jawaban itu," pungkasnya.
Pada Rabu 14 April silam, 16 siswa satu SMA di Sememi, Benowo dimintai keterangan terkait jual-beli jawaban soal UN di sekolah tersebut. Kasus itu berawal dari penggerebekan polisi di rumah R yang digunakan menggandakan soal tersebut.
Dari mereka, polisi menyita 200 lembar kunci jawaban soal UN untuk hari ketiga. Di dalam lembar itu terdapat 20 kunci jawaban untuk 20 model soal yang ada. Kunci jawaban itu per lembar dijual Rp 150 ribu. (Elin Yunita Kristanti)
(Anri Syaiful)