JAKARTA - Upaya delegitimasi Partai Kebangkitan Bangsa, terutama yang ditujukan kepada Muhaimin Iskandar dalam konteks pemilihan presiden tidak bakal banyak berpengaruh terhadap reputasi green party.
Sebaliknya, aksi-aksi semacam ini malah menambah soliditas partai. "Suatu organisasi, termasuk organisasi politik yang mengakar basis massanya, akan semakin menguat soliditasnya manakala terjadi tekanan maupun tantangan, baik dari luar maupun dalam. Apalagi, upaya delegitimasi tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki tendensi pribadi," ujar pengamat politik dari Lembaga Survei Trust Indonesia (LSTI), Muhammad Arwani, di Jakarta (02/5/2014).
Hal tersebut diakuinya lantaran beberapa alasan, pertama, PKB merupakan partai kader yang basis massanya jelas, terutama kaum nahdliyyin yang tidak mudah digoyah oleh pernyataan-pernyataan minor oleh pihak-pihak tertentu. "Rakyat dan warga NU sudah cerdas menilai pernyataan tokoh-tokoh yang memang tulus dan tendensius," ulasnya.
Kedua, Arwani menambahkan, kepemimpinan Muhaimin Iskandar memiliki keunikan tersendiri sehingga mampu meyakinkan berbagai kalangan dan kaum Nahdliyyin. Kemampuan diplomasi dan "blusukan" inilah, kata dia, dibentuk dari proses panjang.
Ketiga, Arwani menilai, secara pribadi, Cak Imin merupakan darah biru NU, cucu salah satu pendiri NU, yakni KH Bisri Syansuri. Karenanya, sangat wajar jika keberadaannya menjadi ikon NU yang menjadi magnet perolehan suara PKB.
"Saya kira, darah biru ke-NU-an Cak Imin, menjadi faktor tersendiri untuk meraih dukungan besar dari kaum nahdliyin," tandasnya.
(ful)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.